VISIT GORONTALO

Informasi Gorontalo seputar Profil Daerah, Budaya, Adat Istiadat dan Kepariwisataan
Wellcome To Hidden Paradise

Pahlawan Dan Nama Jalan

Elnino M Husain Mohi

Bangsa yang besar dalah bangsa yang menghargai para pahlawannya. Di Negara – negara berperadaban lebih tinggi, penghargaan terhadap para pahlawan adalah suatu budaya yang tidak bisa ditinggalkan. Di Amerika, saya pernah menanyakan siapa “James Stock” sehingga namanya menjadi nama jalan kecil di Fayetteville, kota tempat saya belajar leadership. Seorang anak kelas 2 SMP menjelaskan, James Stock adalah pemuda yang berkelahi dengan seekor serigala yang meresahkan masyarakat ketika mereka membuka desa itu dan mulai bermukim di situ. Serigala itu mati, Stock juga mati. Dan singkat cerita, karena kepahlawanan Stock, maka masyarakat menghargainya dengan menjadikan namanya sebagai nama jalan di desa itu.


Bagaimana dengan kita? Kasuari menjadi nama jalan, begitu juga dengan Rajawali, Membramo, Jakarta, Durian, Jeruk, dll. Nama – nama tempat di luar Gorontalo, nama – nama buah, nama – nama binatang, banyak sekali yang menjadi nama jalan. Rumah saya pun beralamatkan di Jalan Barito yang hingga kini saya pahami sebagai singkatan dari Bawang Rica Tomat. Sementara, nama pahlawan Gorontalo yang jadi nama jalan juga kurang dikenal.

Orang lebih ingat Tanggida’a ketimbang Jalan Rusli Datau, lebih keal Andalas ketimbang Jalan Nani Wartabone, Jalan Ipilo ketimbang Jalan Kusno Danupoyo, dan lain sebagainya. Dari 12 (dua belas) pejuang kunci pergerakan patriotik 23 Januari 1942, hanya Nani Wartabone dan Kusno Danupoyo yang menjadi nama jalan. Hey.. sadarkah kita, sengaja atau tidak, lebih menghargai nama buah – buahan dan sayur – sayuran daripada nama pahlawan yang telah berkorban untuk kita?

Saya memahami bahwa ada alasan tertentu kenapa orang – orang tua kita menamai jalan – jalan di Gorontalo dengan nama tumbuhan dan binatang. Yang pasti, mereka akhirnya tidak menggunakan nama pahlawan Gorontalo sebagai bentuk penghargaan kepada orang – orang yang berjasa. Tidak. Mengapa mereka melakukan itu. Andaikata kesadaran untuk menghargai para pahlawan itu ada, maka saya meyakini bahwa seluruh nama anggota Komite-12 (Patriotik 23 Januari 1942) menjadi nama jalan.

Andaikata orang – orang tercerahkan seperti Anda memiliki wewenang (jadi Gubernur / Walikota / Bupati), maka Anda akan mengganti cukup banyak nama jalan (dengan proses tertentu agar tidak merugikan tukang pos dan penulisan alamat). Dalam sekilas benak saya, tanpa membaca literatur sejarah, maka nama – nama para pahlawan Gorontalo yang pantas menjadi nama jalan adalah :

  • Anggota Komite 12, pergerakan patriotik 23 Januari 1942
  • Nama – nama yang pernah menjadi Gubernur / Walikota / Bupati , karena dengan berbagai kekurangan dan kelebihannya mereka telah ikut menentukan perjalanan sejarah daerah kita.
  • Nama para pejuang pembentukan Provinsi Gorontalo, seperti Nelson Pomalingo.
  • Nama para pejuang pembentukan Kabupaten / Kota.

Mereka pantas dihargai jauh lebih tinggi daripada sekedar nama buah – buahan yang tak bermakna apa – apa. Mari kita lihat bangsa – bangsa besar sepanjang sejarah. Sejak dari Hammurrabi, Kejayaan Yahudi, Romawi, Kekhalifaan Islam, hingga sekarang, Kejayaan Eropa, USA, Jepang, China, Korea, dll. Mereka adalah bangsa besar di zamannya masing – masing. Disamping penguasaan ilmu pengetahuan dan teknologi sebagai dasar peradaban, di negara maju mana pun di zaman apa pun selalu ada budaya (way of life) yang menonjol, menghargai para pahlawannya.

Tetapi lihat pula bangsa – bangsa kerdil, yang paling mudah disebut hari ini adalah bangsa kita, bangsa Indonesia (termasuk diri kita sendiri) yang tidak menghargai orang – orang yang berjasa besar kepada kita. Selain Indonesia, kita bisa menyebut beberapa negara miskin lainnya di Asia dan Afrika yang masyarakatnya memiliki tabiat tak menghargai para pahlawan. Di Indonesia, ketika kita menjunjung tinggi jasa para pahlawan (kira – kira sepanjang tahun 1945 – 1960), kita menjadi negara besar yang dihormati dan disegani dunia.

Di zaman Orde Baru, pahlawan kembali mendapat tempat walaupun sekedar dihafal nama – namanya tanpa perasukan nilai – nilai kepahlawanan dalam diri kita. Hasilnya adalah pembangunan yang stabil (stabil di level rata – rata). Di Zaman Reformasi, ketika kita tidak lagi ingat dengan para pahlawan, peradaban kita anjlok, ekonomi terseok – seok, kriminalitas (kerah putih maupun kerah biru) merajalela, moralitas hancur lebur dan rakyat menjadi miskin papa ke dana, marilah kita hari ini merenung kembali korelasi positif antara penghargaan terhadap pahlawan dan kebesaran bangsa.

Sekali lagi, bila ingin jadi bangsa besar, maka kita mesti menghargai pahlawan – pahlawan kita, menghidupkan jiwa kepahlawanan itu dalam sukma kita, sukma anak – anak kita, selama – lamanya. Mari kita mulai dari hal – hal yang kecil.



Penulis :
Elnino M. Husain Mohi
Ketua Masika ICMI Orwil Gorontalo

share this page
  • Print
  • Digg
  • Sphinn
  • del.icio.us
  • Facebook
  • Mixx
  • Google Bookmarks
  • BlinkList
  • email
  • FSDaily
  • LinkArena
  • MSN Reporter
  • MyShare
  • MySpace
  • PDF
  • Ping.fm
  • RSS
  • Technorati
  • Twitter
  • Yahoo! Bookmarks

6 to “Pahlawan Dan Nama Jalan”


  1. kata orang apalah arti sebuah nama,bicara tentang harga menghargai dijaman sekarang. jangankan menghargai seorang pahlah Bangsa, menghargai orang tua saja, yang jelas-jelas adalah pahlawan yg sesungguhnya sudah tidak berlaku lagi di alam ini. apalah jadinya kalaun jaman sudah seperti ini, Bang kalau bisa berikan kontribusi pemikiran untuk tanah kelahiran anda, kita lagi mempersiapkan pemililu kada, untul periode 2010 – 2015. MANA SUARAMU??

  2. bimka says:

    eh, boleh tanya gak, di gorontalo ada nama jalan MT. HARYONO gak?? tu alamat sekitaran daerah mana yak?? tolong infoin gw dong. coz lagi nyari alamat temen lama ne!!
    thanks b4

    • Jl. M.T Haryono, di sekitaran pertokoan Kota Gorontalo, Lokasinya melewati Toko Sama Jaya, Toko Vero 21, Toko Bin Jusuf, dan pusat K5 di Kota Gorontalo… Jalan ini sekarang telah di tata dengan Canopi yang menutup hampir sebagian wilayah jalan ini…..

      • bimka says:

        tanya lagi ne.. trus kalo misal dari bandara ke jl. MT. HARYONO kira2 berapa lama?? infoin juga dunk hotel/penginapan sekitaran MT. HARYONO (mulai dari yang mahal mpe yang murah..)
        thanks b4..

        • sekitar 30-45 menit dengan alternatif melewati dua jalan utama, lewat Jl. Raya Limboto dan Jl. Trans Batudaa-Bongomeme… Kalo penginapan dan Hotel di sekitar jalan ini banyak. tunggu saja artikelnya di web ini.. Masih dalam tahap pengumpulan data nih. Salam

  3. bimka says:

    ok! gw tunggu y boz.. ngomong2 kl udah ada info baru, tlg tag gw.
    makasih banyak atas info pintarnya..



Leave a Reply




Copy Protected by Chetan's WP-CopyProtect.